Hari Ulang Tahun Pernikahan Pertama Arisandy dan Friezta

Tak semua orang menganggap berbagai hal yang telah dilewatinya merupakan momen-momen yang penting atau layak untuk dikenang, dan tak semua momen yang dianggap penting dalam hidup bisa untuk dirayakan, terlepas dari bersedia atau tidak seseorang itu mengenang dan merayakannya.  Namun bagi saya, setiap hal yang telah saya lewati dalam hidup merupakan momen yang layak untuk dikenang, terlepas dari itu momen yang baik atau buruk sekalipun.  Namun ada juga beberapa momen yang memang mendapat perhatian lebih, karena merupakan peristiwa yang sangat istimewa, (mungkin) hanya terjadi sekali dalam hidup, atau momen-momen tersebut memberikan warna baru dan perubahan pada hidup saya, salah satunya adalah momen pernikahan, tepat di tanggal ini, setahun silam (24/03/2013).

Tak terasa, setahun sudah saya menjadi seorang suami dan kepala keluarga bagi istri saya, Epi Friezta Dewi Hasibuan.  Waktu setahun mungkin masih merupakan rentang waktu yang masih sebentar dalam membina rumah tangga, namun bukankah saya telah tuliskan bahwa beberapa hal dalam hidup mempunyai nilai lebih karena mampu mengubah hidup seseorang, salah satunya pernikahan.  Usia yang meski baru setahun namun sangat berkesan dan berarti bagi saya karena selama setahun penuh, saya harus tinggal berjauhan dengan istri.  Memang jarak antara saya yang tinggal di Kota Banda Aceh dengan istri yang tinggal di Kota Medan relatif tidak terlalu jauh, namun tetap saja kami banyak kehilangan momen kebersamaan yang seharusnya bisa dibagi bersama-sama.

Selama setahun penuh, saya lebih banyak absen menemani istri, jarang mendampingi istri dalam setiap kegiatannya, lebih banyak menjaga istri dengan nasihat-nasihat dan doa ketimbang menjaga istri secara langsung dengan berada di sisinya.  Kehidupan seperti ini jelas jauh dari harapan kami untuk selalu bersama-sama tanpa jarak memisahkan.  Tapi bukankah ini semua merupakan pembelajaran dalam menjalani kehidupan?!  Kami masih percaya bahwa roda kehidupan masih terus berputar dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik selalu ada.

Saya pindah ke Kota Medan tahun 2003 lalu untuk mengawali kehidupan karir saya yang saat itu masih berstatus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Departemen Keuangan Republik Indonesia (kini bernama Kementerian Keuangan Republik Indonesia).  Saat itu saya bersama empat orang rekan lain -yang kesemuanya masih lajang- menyewa sebuah rumah sederhana dengan tiga kamar tidur.  Semasa gadis, istri saya -saat itu- masih berstatus sebagai pelajar di sebuah sekolah menengah pertama, tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah yang hanya berjarak satu rumah dengan rumah yang saya tempati.  Gang di depan rumah kami adalah gang buntu, jadi mau tak mau saya dan rekan-rekan harus melewati rumah orang tua istri untuk pergi bekerja atau kemanapun, dan sebaliknya, kembali melewati rumah yang sama untuk pulang.  Hal ini terjadi berulang-ulang dan merupakan rutinitas hingga lambat laun tetangga pun mulai mengenali kami dan mulai akrab satu sama lain, namun tidak demikian dengan saya yang saat itu memang dikenal cuek dan hampir tak peduli dengan lingkungan sekitar.

Awalnya tak ada hubungan yang istimewa di antara saya dan gadis tetangga, bahkan saat itu kami bahkan tidak saling bertegur-sapa.  Si gadis menganggap saya cowok yang sombong, saya pun tak mempedulikan keberadaan si gadis.  Ah, dia pikir dia siapa?  Bahkan ketika kebekuan di antara kami mulai mencair, saya tetap tidak menganggapnya sebagai sosok istimewa yang bisa mencairkan kebekuan hati.  Meskipun demikian, ketika saya dan rekan-rekan akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal, saya dan si gadis masih menjaga komunikasi.

Namun waktu terus berjalan, dan dalam kurun waktu yang tidak sebentar, semua hal bisa berubah, termasuk sosok, kebiasaan, tabiat, dan sifat manusia.  Hubungan saya dan gadis -yang dulunya tetangga- itu semakin dekat dan akrab, termasuk saya semakin akrab dengan keluarganya.  Akhirnya, di tahun 2009, kami memutuskan untuk membuat sebuah komitmen dalam hubungan.  Komitmen yang akan terus kami jaga hingga kami berdua siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih serius.

Di awal tahun 2013, saya dimutasikan bekerja ke Kota Banda Aceh.  Bagaimanapun juga, jarak yang jauh kami yakini akan semakin merenggangkan ikatan komitmen yang telah kami bangun selama itu.  Meskipun sebelumnya saya telah mengungkapkan rencana saya kepada kedua orang tuanya untuk menikahi pasangan saya, namun mutasi saya yang terkesan tiba-tiba membuat semua rencana seketika berubah.  Kami pun memutuskan untuk menikah di tanggal 24 Maret 2013.  Dan sayangnya, kondisi saya yang belum bisa mendapatkan tempat tinggal di Kota Banda Aceh ditambah istri yang bekerja di Kota Medan membuat kami terpaksa tinggal berjauhan.

Enam bulan setelah menikah, kembali terjadi momen yang akhirnya merubah kehidupan kami berdua.  Di akhir bulan September 2013, istri positif hamil.  Pengalaman pertama kalinya bagi kami ini terasa begitu menakjubkan, membahagiakan, mengharukan, sekaligus merepotkan (dalam artian yang baik).  Namun, kehamilan istri benar-benar sebuah berkah tersendiri yang semakin mempererat hubungan kami, meskipun jarak memisahkan.  Jujur saja, (calon) bayi kami memberikan semangat hidup yang baru dan memberi arti baru dalam menjalani kehidupan.

Kini, setahun telah berlalu sejak pernikahan kami.  Memang intensitas pertemuan saya dan istri hanya setiap dua pekan, namun kali ini kualitasnya lebih intim.  Bagi saya, keluarga adalah segalanya.  Oleh karena itu, resolusi saya di tahun ini adalah tinggal bersama istri dan anak kami nantinya.  Saya tak ingin berada jauh dari anak, bagaimanapun juga momen kebersamaan dengan anak tak ternilai harganya.  Bayi cepat sekali tumbuh, dan -bila memungkinkan- saya tak ingin sedikitpun kehilangan momen-momen ia tumbuh dan belajar banyak hal, menemaninya dalam setiap tawa dan tangisnya.

Selamat hari jadi pernikahan yang pertama.  Terima kasih untuk istri saya yang masih setia dan terus bersabar mendampingi saya, mengajarkan kepada saya tentang kesabaran, kesetiaan, optimisme, dan berbagai nilai positif dalam menjalani hidup.  Maaf sampai kurun waktu setahun ini belum bisa mendampingi sepenuh waktu.  Sekarang kita bersiap untuk menyambut kehadiran buah hati yang pertama dan memberikan yang terbaik untuknya.

Tak ada hadiah istimewa, tapi semoga video ini bisa sedikit memberikan inspirasi dan mengenang kembali momen-momen yang pernah kita lalui bersama :




Komentar

  1. Semoga langgeng terus hingga mau memisahhkan ya bang.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'Maut' kan maksudmu, Rudi?
      Aamiin! Makasih doanya.

      Hapus
    2. oh ia bang,, maksudnya langgeng sampai Maut Memisahkan bang.. :)

      heheheh kurang huruf

      Hapus
  2. happy anniversary... moga lenggeng ampe maut yg memisahkan!!!
    doain juga tuh bang,,, bang rudi, biar cepat #Nikah :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin!
      Terima kasih.Siapapun yang udah siap saya doakan segera nyusul.

      Hapus
  3. pacarku memang dekat lima langkah dari rumah *buka sitik joss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, cocok juga tuhjadi lagu tema, Yoga!

      Hapus

Posting Komentar

Setiap bentuk penyalinan (copying) blog ini harus menyertakan link/URL asli dari Blog CECEN CORE.

Postingan populer dari blog ini

Hal-hal dan Dana yang Perlu Dipersiapkan Selama Kehamilan dan Persalinan

Multiple Personality Disorder / Alter Ego : Sebuah Anugerah Atau Kutukan Neurosis?