Musik Metal : Di Balik Segala Sensasi dan Kontroversinya

Bagi sebagian besar dari Anda, mungkin tanggal 10 Maret tidak berarti apapun.  Begitupun dengan saya… tadinya -sebelum mengenal pasangan saya sekarang.  Tapi tanggal 10 Maret 2011 lalu menyimpan cerita tersendiri.  Tanggal itu seakan membuka mata beberapa orang bahwa kelompok-kelompok minoritas yang low profile membuktikan diri bahwa mereka masih eksis di jalurnya : ‘bawah tanah’.

Sebelumnya, saya ajak Anda mundur ke belakang, tepatnya dua puluh tahun lalu saat kalender menunjukkan 10 Maret 1991.  Masih belum berarti apapun juga?  Sebenarnya bagi saya juga karena saat itu mungkin saya masih asyik dengan pistol mainan dan mobil-mobilan, karena saat itu saya baru kelas 3 SD dan baru berumur 8 (delapan) tahun.  Tapi bagi sebuah keluarga, tanggal 10 Maret 1991 begitu berarti : lahirnya sebuah kebahagiaan baru, harapan baru, semangat baru, dan sebuah awal langkah yang besar bagi seorang bayi perempuan yang diberi nama Epi Friezta Dewi Hasibuan, yang kini menjadi pasangan saya.

Lho, apa hubungannya judul blog di atas dengan hari kelahiran pasangan saya?  Mmmm… secara tidak langsung masih berhubungan.  Jadi, lanjutkan saja membacanya!

10 Maret 2011 lalu saya menyiapkan kejutan perayaan ulang tahun ‘spesial’ dan berbeda untuk pasangan saya.  Saya sebut ‘spesial’ dan berbeda karena saya mengajak pasangan saya untuk merayakan ulang tahunnya dengan menonton konser musik cadas, yaitu grup band metal hardcore asal AS, Terror.   Baginya, ini pengalaman pertama kalinya ia diajak menonton konser musik metal oleh pasangannya sendiri (pasti semua mantan pasangannya membosankan).  Tentunya saya sendiri adalah penikmat musik metal sejak masa SMU lalu.

Konser Terror di Medan diadakan di aula lantai II Terminal Futsal, jalan SMTK no.10 - Dr.Mansyur, kota Medan tanggal 10 Maret 2011.  Konser ini bertajuk Terror : Keepers Of The Faith (KOTF) Indonesian Tour 2011. KOTF sendiri adalah judul album dan lagu terbaru mereka.  Konser ini merupakan konser pembuka sebelum mereka melanjutkan rangkaian tour esok harinya di Jakarta.  Formasi Terror sendiri digawangi oleh : Scott Vogel (vokalis), Martin Stewart (gitaris), Jordan Posner (gitaris), David Wood (bassis), dan Nick Jett (drummer).

Hari sebelumnya saya telah menyiapkan rangkaian kejutan untuk pasangan saya, diantaranya dengan memesan kue ultah lengkap dengan tulisan selamat ulang tahun dan lilin berbentuk angka 20 (umur pasangan saya).  Lalu ‘iseng-iseng’ saya SMS pasangan saya menanyakan apakah dia mau merayakan ultahnya tahun ini dengan sesuatu yang beda, menonton konser Terror (walaupun sebenarnya saya yang sangat ingin menonton, tapi karena jadwalnya berbenturan dengan hari ultah pasangan).  Di luar dugaan, pasangan saya menjawab ‘iya’.  Wah, lumayan, bisa nonton Terror manggung sambil sekaligus merayakan ultah pasangan.

Sebenarnya musik metal bukan hal baru bagi pasangan saya karena semenjak mengenal diri saya, sebenarnya dia juga mulai mengenal karakter dan kepribadian saya, termasuk juga hobi, kegemaran, dan juga kebiasaan saya yang sedikit ‘nyeleneh’ dan di sedikit luar batas normal.  Hmmm, syukurnya pasangan saya menganggapnya unik, bukannya ‘aneh’ seperti anggapan kebanyakan orang yang mengenal saya.  Intinya, dia bisa menerima saya dengan segala ‘kelebihan’, keunikan, dan keistimewaan saya.  Bahkan, pasangan saya juga mengkoleksi beberapa musik metal di ponselnya.

Tepat hari H saat ultahnya, setelah menjalani proses ritual pemotongan kue, kami bergegas menuju lokasi konser yang telah ramai disesaki pegunjung yang mayoritas berpakaian serba-hitam (warna kebesaran ‘dunia bawah tanah’/underground), termasuk kami berdua.  Selain Terror, mungkin pasangan saya adalah artis kedua di konser tersebut karena dia adalah satu dari sedikit wanita yang hadir di konser dan satu-satunya wanita yang mengenakan pakaian serba hitam dan ber-hijab.  Malah jadi pusat perhatian pengunjung yang hadir.
Cecen Core & Epi Friezta Dewi Hasibuan di Konser Terror di Medan
Saya dan pasangan saat menonton konser TERROR di kota Medan
Hal yang mengejutkan lagi bagi saya adalah ternyata dia tidak hanya sekedar menonton konser tapi juga menikmatinya dari ‘area aman’.  Tak henti-hentinya dia menggoyang-goyangkan badan dan kepalanya menikmati alunan musik hardcore yang menghentak.  Saya sendiri menikmatinya dengan cara yang lebih ekstrim dan keras : Bergabung dengan massa di barisan terdepan (mosh pit) dan terlibat moshing sampai ‘babak belur’.  Hasil dari konser malam itu adalah pelipis kanan saya yang lecet dan memar, bibir atas-bawah robek, kepala benjol, lengan lebam-lebam, punggung telapak tangan luka, jempol kaki kanan bengkak, dan seluruh badan saya yang rasanya seperti sehabis diinjak seekor gajah, capek, pegal, dan linu di punggung, bahu, dan pinggang.  Beberapa kali saya terjatuh saat moshing dan berkali-kali tertimpa penonton yang asyik ber-slamming ria (melompat dari atas panggung ke arah penonton).  Bagi sebagian Anda mungkin membayangkan hal itu sedikit seram tapi itulah kelebihan dan keistimewaan konser musik cadas.  Bersenggolan, terpukul, bahkan terinjak adalah hal biasa dan bagian dari ‘kesenangan’.  Bagi kaum headbangers atau massa yang tergabung dalam komunitas underground, moshing dan headbanging, ataupun slamming adalah media untuk meluapkan emosi, melepaskan ketegangan, menghilangkan suntuk dan kejemuan akan hal-hal mainstream dan rutinitas, kemuakan akan hal-hal korup, disintegrasi sosial, serta kebobrokan berbalut ‘peraturan dan kebijakan politik’ yang kerap terjadi di negara kita.  Tapi akhirnya pengorbanan saya terbayar dengan akses eksklusif ke belakang panggung untuk mengabadikan momen bersama pasangan dan para personil Terror.  Terima kasih untuk Bro Denni 'Cranium' Arman untuk akses eksklusifnya.
Cecen Core & Denni 'Cranium' Arman di Konser Terror di Medan
Saya & Bro Denni Arman -bassis CRANIUM sekaligus sahabat saya- berfoto di acara konser TERROR di kota Medan
Epi Friezta Dewi Hasibuan & Cecen Core & Scott Vogel, vokalis Terror
Friezta, saya, & Scott Vogel -vokalis TERROR
Epi Friezta Dewi Hasibuan & Cecen Core & Martin Stewart, gitaris Terror
Friezta, saya, & Martin Stewart -gitaris TERROR

Epi Friezta Dewi Hasibuan & Cecen Core & Jordan Posner, gitaris Terror
Friezta, saya, & Jordan Posner -gitaris TERROR

Kru Terror, Cecen Core & Epi Friezta Dewi Hasibuan
Seorang kru TERROR, saya, & Friezta

Cecen Core babak belur di konser Terror di Medan
Saya babak belur sehabis nonton konser TERROR di kota Medan


Studi Tentang Musik Metal


Selama beberapa hari, media-media massa mulai mengulas seputar konser Terror.   Bahkan ada media yang mengulas tentang perkembangan musik lebih jauh dan luas.  Para jurnalis awam mulai menyasar wilayah musik cadas yang dihubung-hubungkan dengan kebiasaan atau kepribadian manusia.  Dalam harian Waspada, edisi Sabtu, 12 Maret 2011, Kolom Kreasi, halaman B12, di artikel berjudul : Music For Life… disebutkan bahwa tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga jauh lebih baik dibanding anak yang tak pernah dijejali musik. Tapi harus diingat, musik disini adalah musik yang memiliki irama dan nada-nada teratur, bukan nada-nada “berantakan”.

Sedikit aneh dan tersinggung setelah membaca pernyataan tersebut.  Memang tidak secara spesifik disebutkan tentang penelitian yang mendasari atau apa yang dimaksud dengan jenis musik yang memiliki irama yang teratur atau jenis musik yang memiliki irama “berantakan”.  Sayang sekali si jurnalis tidak mendeskripsikan kata “berantakan” karena definisinya jadi bias dan malah membuat bingung pembaca.  Lalu kenapa menggunakan tanda petik () dalam kata “berantakan”? Mungkin bukan masalah besar jika media tersebut tidak menampilkan foto konser Terror dalam artikelnya itu.  Apakah ini sebuah bentuk pelecehan?

Langsung saja kita bahas langsung ke intinya, tanpa bermaksud menyerang atau melecehkan balik, saya anggap saja musik dengan irama teratur disini adalah jenis musik mainstream, seperti pop.  Lalu apakah para pecinta musik pop yang didominasi oleh para Anak Baru Gede (ABG) sudah memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi?  Jika melihat perilaku remaja sekarang, saya dengan tegas menjawab, TIDAK!  Lihatlah perilaku remaja masa kini pemuja musik mainstream dan melankolis… sungguh sangat tidak bermoral, memiliki jiwa sosial yang relatif rendah, memiliki kecenderungan untuk menyimpan masalah secara pribadi, kecenderungan untuk berperilaku menyimpang, dan rawan depresi yang bisa berujung bunuh diri.  Lirik dalam musik metal kebanyakan berisi keprihatinan mengenai masalah sosial, politik, budaya, hukum, menyinggung tentang kebobrokan yang terjadi, dan menceritakan tentang kenyataan hidup yang tak sepenuhnya indah seperti dalam dongeng.  Itu yang disinyalir sebagai salah satu perisai bagi para penggemar musik metal untuk tetap tegar meski menghadapi masalah.  Sebaliknya, orang yang patah hati dan malah mendengarkan lagu-lagu dengan lirik melankolis justru akan menambah beban dirinya.  Musik metal berlirikkan kenyataan hidup, bukan angan-angan semu.

Kesalahan kedua menurut saya adalah, asumsi irama “berantakan” sama sekali tak berdasar.  Musik cadas bukannya “berantakan”, iramanya juga beraturan, hanya saja dipenuhi dengan distorsi.  Sebagian musik metal malah bisa digabungkan dengan orkestra (misal : Apocalyptica, Nightwish, Sepultura, dll), atau bahkan dibumbuhi dengan jazz dan funk (SlipKnoT dalam album Mate feed Kill Repeat), skill & musikalitas yang tinggi (Mudvayne).  Perlu diingat skill disini adalah relatif mengingat banyaknya aliran dalam musik underground.  Satu hal yang pasti semuanya ada di atas rata-rata.  Simak saja Lamb Of God yang irama distorsinya sedikit rumit.  Kalaupun ada irama yang terkesan “berantakan”, itu adalah bagian dari kreatifitas dan kejeniusan para musisi metal, pada akhirnya irama “berantakan” itu akan kembali tersinkronisasi menjadi teratur (misal : SlipKnoT dalam lagu Only One).  Irama “berantakan” mungkin lebih tepat ditujukan kepada musik jazz yang sarat dengan improvisasi dari permainan instrumen.  Simak saja aliran jazz latin yang sedikit sulit dimengerti oleh masyarakat awam.  Tapi apakah penggemar dan pemain musik jazz tidak berdisiplin atau bodoh?  Wah, tak perlu saya jawab mengingat jazz adalah kasta tertinggi dalam dunia permusikan.  Pemainnya adalah musisi kelas 1 dan penikmatnya adalah kelompok orang-orang relatif berkelas nan elegan.  Lalu apakah yang dimaksud oleh si jurnalis dengan irama “berantakan”?  Mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stuart Cadwallader dan Profesor Jim Campbell dari The National Academy for Gifted and Talented Youth di Universitas Warwick yang dipublikasikan oleh Sciencedaily dalam artikel berjudul Gifted Students Beat The Blues With Heavy Metal tanggal 22 Maret 2007 terhadap 1.057 pelajar berusia antara 11 hingga 18 tahun membuktikan bahwa penggemar aliran musik metal berkategori berat (heavy metal) ternyata lebih pandai meredam emosi negatif, lebih ekspresif, dan lebih cerdas dalam meluapkan amarahnya, walaupun mereka juga cenderung memiliki kehidupan sosial yang kurang dan merasa rendah diri.  Tapi menurut saya, itu lebih dikarenakan mereka merasa masyarakat tidak memahami dan mempunyai selera musik yang berbeda.

Sedangkan studi yang dilakukan di Perancis oleh Robin Recours, Francois Aussaguel, dan Nick Trujillo terhadap 333 orang penggemar musik metal dengan menggunakan metode Hospital Anxiety And Depression Scale (HADS) yang disusun dalam sebuah jurnal berjudul “Metal Music And mental Health In France” yang dipublikasikan 12 Juni 2009 secara garis besar menyimpulkan bahwa tingkat kecemasan dan depresi para penggemar musik metal berada pada level yang sama, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan tingkatan yang terjadi pada populasi masyarakat secara umum.  Secara spesifik, kurang dari 5 (lima) persen dari para penggemar musik metal yang disurvei menunjukkan gejala-gejala patologis.  Subjek yang menunjukkan tingkat gejala kecemasan dan depresi lebih tinggi adalah mereka yang berkecimpung dan/atau mempunyai latar belakang di bidang seni ketimbang mereka yang berlatar belakang pendidikan, para penulis lirik lagu metal, pengkonsumsi alkohol, dan yang terlibat dalam praktik scarification (seni/teknik pahat tubuh).  Studi ini juga menyarankan kepada masyarakat yang anti-musik metal untuk meneliti kembali dasar kritikan atau tuduhan mereka terhadap musik metal.  Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami dampak musik metal terhadap para penggemarnya dan masyarakat luas.  Mmm… saya termasuk orang yang suka memelihara bekas luka, sampai dibilang aneh dan tidak waras oleh teman-teman saya.  Semoga saya tidak termasuk kategori orang dengan tingkat depresi tinggi.  Biar saja orang menilai diri saya sesukanya, bagaimanapun bekas luka bisa menjadi bahan cerita untuk anak-cucu kelak, juga untuk pasangan.

Surat kabar Inggris, The Telegraph, edisi 4 Februari 2010 dalam salah satu artikelnya berjudul Hyperactivity Disorder ‘Helps Fuel Creative Genius, ditulis oleh Kate Devlin, yang juga dimuat oleh laman detik.com tanggal 5 Pebruari 2010 dalam artikel berjudul Tokoh Besar Muncul Dari Anak Hiperaktif, menyebutkan bahwa anak-anak penderita gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) ternyata bisa tumbuh menjadi seorang yang sukses dan kreatif.  Salah satu contohnya adalah Kurt Cobain (vokalis merangkap gitaris grup band beraliran grunge, Nirvana).  Memang grunge tidak ikut dikategorikan ke dalam genre musik metal, tapi tetap saja, Nirvana adalah satu contoh band yang keluar dari jalur mainstream pada masanya.  Intinya, bahkan massa underground yang hobinya berjingkrak dan berkesan brutal ternyata bisa memiliki potensi untuk berkreasi secara lebih luas.  Mau contoh lain?  Mantan vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson, yang juga merangkap sebagai aktor, penulis, sutradara, dan pilot.  Ya, ia adalah seorang penggila musik kencang yang multi-talenta.  Atau Mick Thompson (gitaris SlipKnoT) yang juga seorang guru gitar di sebuah kursus/sekolah musik.  Saya juga dijuluki ‘the most intelectual metalhead‘ oleh seorang sahabat saya.  Hehe…!!!

Jadi kesimpulan dari blog saya ini adalah, tak perlu takut atau merasa minder untuk menjadi penggemar musik cadas.  Justru seharusnya kita berbangga diri karena kita ditakdirkan berbeda dengan mayoritas masyarakat di sekitar kita.  Kita adalah kaum minoritas yang bisa membawa perubahan.  Kita sering dikambing-hitamkan atas kebobrokan yang terjadi, tapi lihatlah para munafik yang menuduh kita, mereka bersembunyi dibalik topeng kemapanan dan ‘kenormalan’.

Bebaskan ekspresimu dengan meneriakkan amarahmu.  Agresifitas dalam bermusik, moshing, dan headbanging masih lebih baik ketimbang meluapkannya dalam kekerasan atau makian yang bisa saja kalian lampiaskan kepada orang-orang terdekat yang ujung-ujungnya akan menyakiti hati dan perasaan mereka.  Bahkan amarah yang dipendam terlalu lama bagaikan sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja saat kita merasakan frustasi.  Bagian terburuknya, kita bisa meluapkannya ke orang-orang terdekat.  Musik metal adalah salah satu media ampuh untuk melepaskan dan meluapkan emosi negatif.

Jennifer Copley –seorang penulis lepas, dalam artikelnya berjudul Psychology of Heavy Metal Music : Effects on mood, agression, suicide, drug use and intelligence, pernah dimuat di laman suite101.com, 8 Mei 2008, secara rinci menyebutkan perilaku-perilaku menyimpang yang dikorelasikan dengan musik metal, diantaranya :

Agresi
Beberapa studi menemukan bahwa individu menjadi semakin bermusuhan, agresif, atau marah setelah mendengarkan musik metal, sedangkan studi yang lain tidak tidak menemukan adanya respons agresif.  Beberapa peneliti bahkan menemukan bahwa subjek yang marah menjadi lebih bahagia, kalem, dan lebih rileks setelah mendengarkan musik metal yang menjadi kegemaran mereka.

Bunuh Diri
Walaupun angka bunuh diri lebih banyak terjadi di antara para penggemar musik rock dan heavy metal (terutama yang disebutkan terakhir), sebuah studi terhadap para siswa penggemar musik metal yang juga penderita gangguan mental malah menunjukkan perbaikan mood setelah mendengarkan musik pilihan mereka.  Studi lain terhadap siswa yang mengalami depresi juga menunjukkan hasil yang sama, menyarankan bahwa para siswa bisa menggunakan jenis musik ini untuk membantu penanganan depresi yang mereka alami, alih-alih menjadi lebih depresi setelah mendengarkannya.
Epilog : Jika Anda mempunyai seorang kerabat, teman atau kenalan Anda mempunyai gejala depresi dan kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan jika dia sempat membicarakan tentang niatnya untuk mengakhiri hidup, sebaiknya Anda segera mengambil tindakan dan jangan menganggap remeh pernyataan tersebut karena itulah ciri-ciri orang yang mengalami depresi akut.  Ingatlah bahwa orang yang cenderung untuk bunuh diri mempunyai sikap bertentangan terhadap hidup dan mati.  Ia ingin bunuh diri dan bosan dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.  Pada waktu yang sama, ia ingin diselamatkan oleh seseorang.  Jika orang ini menghubungi, penting untuk mulai membangun sebuah hubungan yang positif dengannya.  Hubungan ini dapat mempengaruhinya sehingga ia memutuskan untuk tetap hidup.  Setelah itu, segera hubungi orang-orang terdekatnya dan ahli (psikiater).  Untuk mengetahui kiat-kiat lebih lanjut dalam membantu orang-orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri, klik di laman e-konsel disini.

Prestasi Akademik
Beberapa studi menemukan bahwa remaja (lelaki dan perempuan) penggemar musik metal cenderung memiliki nilai lebih rendah di sekolah, tetapi hal ini lebih disebabkan oleh faktor kepribadian atau lingkungannya (seperti stres tingkat tinggi) ketimbang efek langsung dari musik metal itu sendiri (hello,… walaupun saya nakal semasa sekolah dulu, tapi sepertinya prestasi akademik saya masih di atas rata-rata, lagipula siapa yang perlu nilai tinggi di sekolah jika kita bisa menjadi orang yang cerdas?!  Kecerdasan bukan ditentukan dari nilai).

Kecerdasan
Menariknya, para mahasiswa penyuka musik alternatif, rock, maupun heavy metal sebenarnya malah meraih skor tes IQ (Intelligence Quotient) diatas rata-rata, terutama pada pertanyaan yang memerlukan abstraksi.  Beberapa studi juga menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi di antara para remaja penggila musik metal (seperti yang saya tuliskan di atas : kecerdasan bukan ditentukan dari nilai akademik).

Menempuh Risiko
Mereka yang menggemari musik rock atau heavy metal cenderung menjadi pencari sensasi yang ceroboh dalam hal mengambil risiko.  Ini juga lebih disebabkan oleh kepribadian individu ketimbang dampak langsung dari musik metal –para pencari sensasi memiliki reaksi sistem syaraf yang kurang dan diperlukan rangsangan lebih lanjut untuk bisa menghasilkan sensasi kebahagiaan dan kesenangan.
Para pengambil risiko lebih cenderung melakukan tindak kejahatan karena mereka tidak merasa dipusingkan dengan segala konsekwensinya.  Bagaimanapun juga, hal ini tidak disebabkan oleh musik metal itu sendiri; para pengambil risiko lebih menggemari musik yang lebih energik dan melewatkan waktu dengan melakukan hal-hal yang lebih berbahaya sebagai akibat dari kepribadian bawaan lahir dan fisiologi.  Wah, saya sangat menggemari hal yang memacu adrenalin dan terkadang menantang maut, semoga tidak menjadi seorang kriminal.  Bagaimanapun juga, peran lingkungan dan orang-orang terdekat sangat besar.

Pengunaan Obat-obatan Terlarang (Narkoba)
Studi mengenai hubungan antara musik heavy metal dan narkoba menghasilkan beragam hasil.  Satu studi menemukan bahwa remaja penggemar musik heavy metal cenderung mengkonsumsi narkoba, walaupun mereka tidak mengkonsumsinya secara berlebihan atau menjadi pecandu.  Penelitian lain tidak menemukan adanya hubungan antara musik metal dan narkoba atau sejenisnya.  Secara keseluruhan, konsumsi alkohol dan/atau narkoba oleh para orang tua mempunyai pengaruh paling besar terhadap penggunaan narkoba oleh para kaum muda.

Perilaku Terhadap Wanita
Sebuah studi terhadap mahasiswa (pria) menemukan bahwa musik metal yang memaparkan kekerasan seksual meningkatkan kecenderungan untuk mengklisekan peranan gender dan menyimpan lebih banyak persepsi negatif terhadap kaum wanita.  Bagaimanapun juga, ini adalah akibat dari konten mengenai kekerasan seksual itu sendiri, bukan musik metalnya (mungkin pertanyaan ini lebih tepat saya ajukan kepada pasangan saya ).


Jadi, tak ada yang salah dengan musik metal. tumpahkan semua amarah dan bebanmu melalui musik cadas.  Aman dan dijamin tanpa anarki.  Equality for all the black clothes community.  Ya, mungkin memang si jurnalis itu seharusnya lebih banyak mendengarkan musik metal agar lebih terinspirasi untuk membuat tulisan, karena sepertinya artikelnya menyadur artikel dari laman forum jiwang.org yang berjudul : Muzik Sangat Pengaruhi Perkembangan IQ dan EQ Anak.

Hmmm… tanggal 10 Maret 2011 memang benar-benar berkesan dan membuka mata sebagian dari kita akan hal-hal baru.  Bukan hanya harapan baru, tapi juga pengetahuan baru dan bahkan juga kegemaran baru.  Selamat ulang tahun, Sayang!

Epi Friezta Dewi Hasibuan


Salam Equality,
Cecen Core











ARISANDY JOAN HARDIPUTRA a.k.a CECEN CORE
========================================================

Referensi :
Bookmark and Share

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal-hal dan Dana yang Perlu Dipersiapkan Selama Kehamilan dan Persalinan

Multiple Personality Disorder / Alter Ego : Sebuah Anugerah Atau Kutukan Neurosis?